Beranda > Informasi > Kota Pilihan Orang kaya Dunia

Kota Pilihan Orang kaya Dunia

Sekolah dan sistem pajak merupakan alasan utama pembelian rumah kedua orang superkaya.

Perusahaan konsultan properti global, Knigt Frank mengumumkan, Jakarta menjadi salah satu kota pilihan tinggal bagi orang-orang superkaya dunia. Saat ini, Jakarta mengalahkan Kuala Lumpur dan Bangkok.

Survei yang dilakukan Knight Frank dan Citi Private Bank itu menyimpulkan, Jakarta menjadi kota pilihan ke-48 bagi orang yang memiliki kekayaan lebih dari US$100 juta (sekitar Rp900 miliar). “Peringkat Jakarta akan terus naik menjadi ke-28 pada 10 tahun mendatang,” kata Senior Associate Director Knight Frank Indonesia, Fakky I Hidayat, dalam keterangan tertulis, Senin 11 April 2011.

Menurut dia, Jakarta berpotensi masuk 20 besar dengan syarat perlu dukungan dan komitmen besar dari pemerintah, khususnya infrastruktur kota, seperti transportasi massal. Perbaikan kesehatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perbaikan sarana, seperti listrik, air bersih, serta jaringan telekomunikasi juga menjadi modal peningkatan peringkat ini.

Saat ini, kota yang menjadi tujuan utama orang-orang superkaya dunia masih diduduki New York dan London. Hingga 10 tahun mendatang, Knight Frank melaporkan, dua kota ini masih sulit tergeser.

Yang menarik, Fakky melanjutkan, kota-kota di negara berkembang di Asia Pasifik akan terus melonjak. Dalam 10 tahun ke depan, Shanghai akan menjadi incaran ketiga orang superkaya dunia, setelah New York dan London. Saat ini, Shanghai menempati urutan ke-6.

Demikian juga dengan Mumbai, kota ini akan menjadi tujuan ketujuh dari saat ini ke-13. “Dominasi Asia Pasifik tercermin dari konsentrasi orang superkaya tinggal yang mencapai 35 persen,” kata dia. Setelah itu disusul Amerika Latin sebesar 25 persen, Eropa (20 persen), Amerika (15 persen), dan Afrika (5 persen).

Dalam laporan itu, sekolah favorit dan sistem perpajakan yang baik, merupakan faktor utama pendorong pembelian rumah mewah. “29 persen pembeli rumah kedua dari Asia Tenggara mengatakan bahwa fasilitas pendidikan anak merupakan alasan utama pembelian ini.”

hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi jakarta saat ini, dimana banjir masih belum bisa teratasi dengan baik, kemacetan juga belum bisa dimanage dengan baik.

Source : vivanews

Kategori:Informasi
  1. April 11, 2011 pukul 8:11 am

    Benar Pak, sistim perpajakan dan pendidikan di Indonesia, masih belum mengakomodasi bagi para orang tua baik yang lokal , regional maupun International untuk dapat menjamin biaya akomodasi bagi anak -anak mereka akan rendah.
    rancang pengaturan tansportasi masal harus mendukung bagi mobilitas para pekerja maupun siswa agar efisien dan murah ketempat tujuan. untuk sekolah 2 atau lembaga pendidikan di luar kota metropolitan seperti Jakarta pun demikian, sebagai contoh ,untuk Bandung, Jawa Barat ,harga tanah dilingkungan kampus,kantor-kantor serta sentra usaha dan pendidikan, kuline melambung tinggi dan tanpa ada pengaturan tata ruang dan lingkungan yang terencana dan berkelanjutan menyebabkan kemacetan dan kepadatan aktifitas yang berakumulasi di titik tertentu,menyebabkan terjadinya biaya tinggi untuk ongkos dan waktu
    Sebagian orang tua siswa /murid dari luar daerah yang menyekolahkan anak mereka serta para pekerja-pekerja yang memperoleh kesempatan untuk sekolah lagi mencari lokasi yang terdekat dengan sekolah / kampus mereka.
    dengan harapan mengurangi ketergantungan dengan Sistim transportasi yang belum menjamain yang disiapkan dan dirancang pemerintah.
    Sistim perpajakan belum menyentuh bagi pemilik Properti yang membangun / mendirikan rumah atau tempat tinggal bagi penyewa atau pengontrak yang terdiri dari para siswa / pekerja yang membutuhkan tempat menetap sementara guna menunjang aktifitas mereka dengan biaya rendah, efisien dan mudah.
    Self Assessment Tax bagi pemilik rumah yang perorangan tidak menjamin tercapainya pengenaan pajak layak nya pemilik hotel, Apartemen, wisma dll.
    Semoga untuk masa mendatang Sistim di rancang dapat menjamin tidak ada nya kesenjangan antar warganegara yang meperoleh hasil usaha yang tinggi dan dilain pihak biaya untuk akomodasi , transportasi dan biaya makan yang dikeluarkan bagi warganegara lain nya menjadi sangat mahal.

  2. April 11, 2011 pukul 8:31 am

    Mas surya: benar sekali bapak.. sekarang kita hanya bisa berharap, kedepannya pemerintah mengupayakan untuk penataan ulang tempat/wilayah2 yang emang sudah tidak layak secara efisiensi waktu dan keindahan penataan kota. jadi, semoga pemerintah bener2 mampu untuk merealisasikan penelitian dari Knigt Frank ini..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: