Beranda > Wisata > Danau Ranu Grati – Pasuruan

Danau Ranu Grati – Pasuruan

Danau Ranu Grati merupakan salah satu obyek wisata alam kabupaten pasuruan. yang memiliki luas lebih kurang 198 hektar ini, Lokasi danau Ranu Grati berada di sebelah selatan tidak jauh dari akses jalan antar propinsi melalui jalur pantura. Di Danau Ranu Grati ini  banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk budidaya ikan keramba, ini yang membuat menarik karena disamping kita bisa melihat para petani budidaya ikan tersebut bekerja, kita juga bisa membeli untuk dinikmati di tempat ini.
Danau Ranu Grati ini terletak diantara 3 desa di kecamatan Grati, yaitu Desa Sumberdawesari, Desa Ranuklindungan, dan Desa Gratitunon. Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar Ranu Grati kurang lebih 18 ribu jiwa.

Legenda Danau Ranu Grati

Ki Ageng Bangil mengambil telur ular sanca di hutan, untuk mengobati istrinya (Purwosari) yang sakit lumpuh. Setelah meminum telur ular sanca itu, secara ajaib kaki Purwosari sembuh. Tapi sepasang ular sanca raksasa pemilik telur itu mengamuk di kampung Bangil, untuk mengambil telurnya. Sepasang ular sanca itu berhasil dikalahkan Ki Ageng Bangil dengan tongkat emas yang sakti. Tahu kalau telurnya sudah diminumkan ke istrinya, ular sanca kembang mengutuk, kalau anak yang tengah dikandung Purwosari akan segera lahir dengan kulit bersisik ular. Kutukan itu benar terjadi, karena bayi perempuan yang dilahirkan Purwosari, kulitnya berisisik seperti ular.

Untuk menutupi aib, Ki Ageng Bangil mengungsikan anak dan istrinya di sebuah gubuk di tengah hutan. Tapi Purwosari sangat menyayangi anaknya dan diberi nama Grati. Sepasang ular sanca memberi tahu, bahwa sisik ular di kulit Grati akan hilang kalau ada yang berhasil mengeluarkan mustika merah delima dari dalam tubuhnya. Tapi mustika merah delima itu harus diserahkan kepada sepasang ular sanca, karena merupakan intisari dari telur yang diminum Purwosari. Jika mustika itu keluar tapi hilang, Grati akan dimakan sebagai gantinya. Merasa bersalah, Ki Ageng Bangil membuang tongkat emasnya di kawah gunung berapi.

Setelah 10 tahun berlalu. Grati tumbuh sebagai Gadis cilik bersisik ular. Ia tidak dibolehkan keluar dari hutan dan hanya bermain dengan berbagai jenis ular, termasuk sepasang ular sanca yang selalu mengawasi sekaligus melindungi. Suatu ketika, ada bocah laki-laki (Ranu) tersesat di hutan dan terjebak lumpur hidup. Grati menolongnya. Sejak itu Ranu dan Grati berteman.

Sementara itu di desa Pakis, Ki Lurah Pakis (ayahnya Ranu) yang mau mengambil empedu ular raja kobra malah kena patok. Akibat bisa ular itu, Ki Lurah Pakis mengalami sakit kepala tengleng. Menurut Ki Sronen (pawang ular) sakit kepala tengleng Ki Lurah pakis hanya bisa disembuhkan dengan mustika ular. Perburuan ularpun segera dilakukan. Grati dan para ular melakukan perlawanan. Tapi suling ajaib yang ditiup Ki Sronen mampu melumpuhkan semua ular. Bahkan Grati dibikin tak berdaya oleh suara suling. Melihat cahaya merah delima memancar dari dada Grati, Ki Sronen langsung yakin, kalau mustika ular itu ada di dalam tubuh Grati. Dengan suling ajaib, Ki Sronen berusaha mengeluarkan mustika dari tubuh Grati. Grati kejang-kejang oleh suara suling. Anehnya, sisik-sisik ular ditubuh Grati berontokan dan menjadi kepingan emas. Ki Lurah Pakis dan istrinya yang tamak, segera mengambili semua kepingan emas itu. Setelah sisik terakhir terlepas, mustika berwarna merah delima juga keluar dari dalam tubuh Grati.
Dengan meminum air rendaman mustika itu, sakit kepala tengleng Ki Lurah Pakis berhasil disembuhkan. Ki Ageng Bangil datang meminta mustika itu untuk dikembalikan pada sepasang ular sanca. Tapi Ki Lurah Pakis tidak mau memberikan mustika, kecuali ditukar dengan tongkat emas milik Ki Ageng Bangil. Karena tongkat emas itu sudah dibuang dikawah gunung berapi, Grati berniat mengambilnya. Diam-diam Ranu mengikuti. Setelah melewati berbagai halangan, Ranu dan Grati berhasil mengambil tongkat emas itu. Tapi Ki Lurah Pakis tidak mau menyerhkan mustika ular. Bahkan Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen malah saling berebut tongkat emas yang dikenal sakti itu. Grati kesal, menancapkan tongkat emas itu di tanah. Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen tak sanggup mencabutnya. Bahkan semua warga kampung yang ingin memiliki tongkat emas itu juga tak ada yang sanggup mencabutnya.

Menurut Ki Ageng Bangil, yang bisa mencabut hanya anak yang masih suci, berhati bersih dan berpikiran jernih, tanpa maksud untuk memilikinya. Akhirnya Ranu dan Grati bersedia mencabut tongkat emas itu, asal diberikan mustikanya. Ki Lurah Pakis memberikan mustika pada Grati. Ranu dan Grati berhasil mencabut tongkat emas itu dengan mudah. Tapi dari lobang bekas tancapan tongkat emas, memancar air beserta kepingan-kepingan emas. Warga pada berebut menghumpulkan kepingan emas itu, sementara Ki Lurah Pakis berebut tongkat dengan Ki Sronen. Ki Ageng Bangil segera membawa pergi Ranu dan Grati beserta sebagian warga yang mau mengungsi meninggalkan desa Pakis. Dalam waktu singkat, muncratan air menjadi banjir bah yang dahsyat. Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen yang berebut tongkat emas, serta warga yang berebut mengumpulkan kepingan, semuanya ikut tenggelam karena desa Pakis sudah berubah menjadi danau. Danau itu kemudian diberi nama Ranu Grati.

Kategori:Wisata
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: